Etika Profesi Komunikasi
Selasa, 22 Januari 2019
Rabu, 07 November 2018
Karya Tulis Ilmiah
https://drive.google.com/file/d/15qZxD6HO3KmqQwrCdtsvPjiRqDKI_3uS/view?usp=sharing
Sabtu, 14 April 2018
ANTRIAN
ANTRIAN
Konsep
teori antrian pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh A.K. Erlang, seorang
insinyur Denmark yang bekerja pada perusahaan telepon di Kopenhagen pada tahun
1910. Berawal dari para operator yang kewalahan pada waktu-waktu yang sibuk sehingga
membuat para penelpon harus menunggu giliran dengan waktu yang cukup lama untuk
mendapatkan pelayanan.
Antrian
timbul disebabkan oleh kebutuhan akan layanan melebihi kemampuan (kapasitas)
pelayanan atau fasilitas layanan, sehingga pengguna fasilitas yang tiba tidak
bisa segera mendapat layanan disebabkan kesibukan layanan. Pada banyak hal,
tambahan fasilitas pelayanan dapat diberikan untuk mengurangi antrian atau
untuk mencegah timbulnya antrian. Akan tetapi biaya karena memberikan pelayanan
tambahan, akan menimbulkan pengurangan keuntungan mungkin sampai di bawah
tingkat yang dapat diterima.
Kompenen Sistem
Antrian
Ada tiga komponen
dalam sistem antrian, yaitu:
1.
Kedatangan
Komponen ini sering disebut juga dengan proses input. Proses input meliputi calling population atau sumber kedatangan dan terjadinya merupakan suatu variabel yang bersifat acak. Variabel acak adalah suatu variabel yang nilainya bisa berapa saja sebagai hasil dari percobaan acak. Variabel acak dapat berupa diskrit atau kontinu.
Komponen ini sering disebut juga dengan proses input. Proses input meliputi calling population atau sumber kedatangan dan terjadinya merupakan suatu variabel yang bersifat acak. Variabel acak adalah suatu variabel yang nilainya bisa berapa saja sebagai hasil dari percobaan acak. Variabel acak dapat berupa diskrit atau kontinu.
2.
Pelayan
Mekanisme pelayanan dapat terdiri
dari satu atau lebih pelayan maupun fasilitas pelayanan
yang diberikan. Biasanya, fasilitas pelayanan tersebut disebut juga dengan saluran atau channel. Contohnya, alfamart
memiliki satu tempat untuk pembayaran.
3.
Antrian
Faktor penting dari timbulnya
antrian adalah sifat kedatangan dan proses layanan. Jika tidak ada antrian, maka dapat dipastikan
bahwa terdapat pelayanan yang menganggur atau
fasilitas pelayanan yang berlebih.
Penentu antrian lain
yang penting adalah disiplin antri. Disiplin antri adalah aturan keputusan yang
menjelaskan cara melayani pengantri. Menurut Siagian (1987), adapun bentuk
disiplin pelayanan yang biasa digunakan, yaitu :
- First in First Out (FIFO) atau First Come Fisrt Served (FCFS), yang artinya pelanggan yang lebih dulu datang akan lebih dulu mendapatkan pelayanan.
- Last In First Out (LIFO) atau Last Come First Served (LCFS), artinya pelanggan yang datang terakhir bisa mendapatkan pelayanan terlebih dahulu, atau yang lebih dahulu keluar adalah yang terakhir datang.
- Service In Random Order (SIRO), artinya pelayanan diberikan tidak berdasarkan urutan kedatangan, melainkan dilakukan secara random.
- Priority Service (PS), artinya mereka yang mempunyai prioritas lebih tinggi yang akan terlebih dahulu diberikan pelayanan, dan mereka yang memiliki prioritas rendah akan mendapatkan pelayanan berikutnya, meskipun datang lebih awal.
Struktur Antrian
Ada 4 model struktur
antrian dasar yang umum terjadi dalam seluruh sistem antrian :
1.
Single Channel –
Single Phase
Single Channel berarti satu saluran atau satu jalur dan Single Phase berarti satu pelayanan. Maksudnya adalah hanya ada satu jalur yang memasuki sistem pelayanan atau hanya ada satu fasilitas pelayanan yang diberikan. Contohnya: toko kue
Single Channel berarti satu saluran atau satu jalur dan Single Phase berarti satu pelayanan. Maksudnya adalah hanya ada satu jalur yang memasuki sistem pelayanan atau hanya ada satu fasilitas pelayanan yang diberikan. Contohnya: toko kue
2. Single Channel – Multi Phase
Berarti satu saluran ada dua atau lebih pelayanan. Contohnya: tempat pencucian mobil.
3.
Multi Channel –
Single Phase
Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal. Contohnya: supermarket.
Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal. Contohnya: supermarket.
4. Multi Channel – Multi Phase
Sistem Multi Channel – Multi Phase berarti ada beberapa fasilitas pelayanan dalam banyak jalur atau melalui beberapa tahapan.Contohnya: pelayanan kepada pasien di rumah sakit mulai dari pendaftaran, diagnosa, penyembuhan sampai pembayaran.
Sistem Multi Channel – Multi Phase berarti ada beberapa fasilitas pelayanan dalam banyak jalur atau melalui beberapa tahapan.Contohnya: pelayanan kepada pasien di rumah sakit mulai dari pendaftaran, diagnosa, penyembuhan sampai pembayaran.
Mekanisme Pelayanan
Ada 3 aspek yang
harus diperhatikan dalam mekanisme pelayanan, yaitu :
1.
Tersedianya pelayanan
Mekanisme pelayanan tidak selalu
tersedia untuk setiap saat. Misalnya toko kue, pelayanan hanya dibuka pada
waktu pagi sampai sore hari saja dan tutup pada malam hari. Sehingga pada saat
toko ditutup, mekanisme pelayanan terhenti dan petugas pelayanan istirahat.
2.
Kapasitas pelayanan
Kapasitas dari mekanisme pelayanan
diukur berdasarkan jumlah langganan yang dapat dilayani secara bersama. Oleh karena
itu, fasilitas pelayanan dapat memiliki satu atau lebih saluran. Fasilitas yang
mempunyai satu saluran disebut saluran tunggal atau sistem pelayanan tunggal
dan fasilitas yang mempunyai lebih dari satu saluran disebut saluran ganda atau
pelayanan ganda.
3.
Karakteristik waktu
pelayanan
Lamanya pelayanan adalah waktu yang
dibutuhkan untuk melayani seorang langganan atau satu – satuan. Ini harus
dinyatakan secara pasti. Umumnya dan untuk keperluan analisis, waktu pelayanan
dianggap sebagai variabel acak yang terpencar secara bebas dan sama serta tidak
tergantung pada waktu pertibaan (Siagian, 1987).
Perilaku Biaya
Antrian
Dalam
sistem antrian ada dua jenis biaya yang timbul, yaitu biaya karena orang
mengantri atau dengan menambah fasilitas layanan. Biaya yang terjadi karena
orang mengantri adalah berupa waktu yang hilang karena menunggu. Sementara
biaya menambah fasilitas layanan berupa penambahan fasilitas layanan serta gaji
tenaga kerja yang memberi pelayanan.
Suatu
cara untuk mengevaluasi sebuah fasilitas pelayanan adalah dengan melihat biaya
total yang diharapkan. Total biaya merupakan penjumlahan biaya pelayanan yang
diharapkan ditambah dengan biaya menunggu yang diharapkan.
Manfaat Antrian
Secara umum adapun
manfaat antri diantaranya adalah:
- meminimalkan biaya total, yaitu biaya karena mengantri dan biaya karena menambah fasilitas layanan
- Antrian membuat konsumen tidak perlu berbaris menunggu untuk dilayani dan memberikan kepuasan serta kenyamanan kepada konsumen.
- Antrian dapat menjadikan kinerja karyawan lebih efisien di bidangnya masing-masing.
Sumber
Sabtu, 24 Maret 2018
Kemacetan di Jalan Margonda Raya
ANALISIS KEMACETAN LALU LINTAS DI SUATU WILAYAH
(STUDI KASUS DI JALAN MARGONDA RAYA)
ABSTRAK
Jalan Margonda Raya memiliki fungsi jalan kolektor primer
dengan volume lalu lintas paling tinggi dibandingkan jalan lainnya di Kota
Depok terutama pada jam sibuk. Pergerakan
kendaraan dan pejalan kaki di kawasan tersebut baik lokal maupun regional cukup
padat sehingga sering menimbulkan kemacetan dan kendaraan yang mengakibatkan
bertambahnya waktu tempuh kendaraan terutama pada pada saat hari kerja.
Batasan yang diambil yaitu Bundaran UI sampai pertigaan
jalan Margonda Raya-jalan Ir.H.Juanda dengan lokasi survey mulai dari depan kampus
D Universitas Gunadarma.
Penyebab kemacetan yang
terjadi dapat diketahui dengan pengamatan langsung terhadap lokasi kemacetan, sehingga
dapat diketahui titik kemacetan, tingginya aktivitas pejalan kaki, beserta waktu
arus kendaraan puncak.
Dari hasil pengamatan,
ditemukan penyebab kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan Margonda Raya, yaitu
karena aktivitas penyebrang jalan yang cukup banyak, perilaku pengemudi
angkutan kota, dan banyaknya kendaraan.
Berdasarkan penyebab utama
yang ditemukan, maka solusinya adalah dengan ditutupnya media jalan zebracross
depan halte pocin dengan pagar agar pejalan kaki tidak menyebrang sembarangan
yang mengakibatkan terjadinya kemacetan dan Jembatan penyebrangan orang dapat
dipakai dengan semestinya, serta perbaikan halte untuk tempat pemberhentian
angkot.
Dengan solusi tersebut,
diharapkan kecepatan perjalanan yang melewati jalan Margonda Raya pada waktu
arus puncak dapat meningkat.
Kata kunci: Kemacetan, Jalan
Margonda Raya, Pagar Pembatas.
I. PENDAHULUAN
Lalu lintas adalah sarana untuk bergerak dari satu
tempat ke tempat yang lain, oleh karena itu lalu lintas merupakan salah satu
masalah penting. Apabila arus lalu lintas terganggu atau terjadi kemacetan,
maka mobilitas masyarakat juga akan mengalami gangguan. Gangguan-gangguan ini
akan berdampak negatif pada masyarakat.
Masalah kemacetan lalu lintas seringkali
terjadi pada kawasan yang mempunyai
intensitas kegiatan dan penggunaan lahan yang tinggi.
Selain itu, kemacetan lalu lintas
terjadi karena volume lalu lintas tinggi yang disebabkan
bercampurnya lalu lintas
menerus, lalu lintas regional dan lokal.
Demikian juga yang terjadi di jalan Margonda
Raya yang menghubungkan antara Kota Depok dengan Kota Jakarta hampir setiap
hari kerja maka ruas jalan ini selalu terjadi kemacetan lalu lintas. Panjang
Jalan Margonda Raya adalah sekitar 6,5 km terhitung dari bundaran Universitas
Indonesia sampai dengan pertigaan Jl. Dewi Sartika.
Kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan Margonda
Raya merupakan masalah
yang harus segera ditangani. Usaha-usaha untuk mencegah
dan mengurangi
terjadinya kemacetan lalu lintas harus segera dilakukan,
maka perlu dilakukan
analisis untuk mengetahui penyebab kemacetan lalu lintas
yang terjadi sehingga dapat memberikan solusi untuk mengatasi kemacetan yang
terjadi.
II. PENYEBAB KEMACETAN LALU DI JALAN MARGONDA RAYA
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan,
maka penyebab kemacetan
yang sering terjadi di jalan Margonda Raya adalah sebagai
berikut :
Aktivitas Pejalan Kaki / Penyebrang Jalan
Aktivitas pejalan kaki / penyeberang jalan yang
ada di jalan Margonda Raya cukup banyak. Pemda setempat telah menyiapkan
fasilitas JPO yang cukup memadai untuk penyebrang jalan tetapi orang–orang
tetap lebih memilih zebracross
dikarenakan waktu tempuh yang lebih cepat tetapi adapun dampak negatif dengan
adanya zebracross yaitu merupakan
salah satu hal yang dapat memicu terjadinya macet.
Kesadaran dari pejalan kaki dalam memenuhi peraturan
yang berlaku juga minim. Hal ini juga didukung dari hasil pengamatan yang telah
dilakukan bahwa aktivitas pejalan kaki / penyeberang jalan ini menjadi penyebab
kemacetan terbesar yang terjadi di jalan Margonda Raya.
Berikut adalah gambaran dari aktivitas pejalan
kaki / penyeberang jalan yang dapat kita lihat di Jalan Margonda Raya.
Gambar
1. penyebrang jalan di Jalan Margonda Raya
Perilaku Pengemudi Angkutan Kota
Angkutan kota atau angkot adalah salah satu
moda transportasi yang sering kita jumpai dan banyak digunakan oleh masyarakat
karena harga yang terjangkau, tetapi angkot juga menjadi penyebab terjadinya kemacetan
karena sering berhenti untuk menurunkan
penumpang dan berhenti / ngetem pada tempat yang
dilarang.
Demikian juga yang terjadi di jalan Margonda
Raya bahwa perilaku angkutan kota yang tidak sesuai aturan menjadi penyebab kemacetan
kedua berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan.
Berikut adalah gambaran yang diambil di
tempat Angkutan kota berhenti / ngetem
di Jalan Margonda Raya.
Gambar 2. Perilaku angkutan kota di Jalan Margonda Raya
III. SOLUSI MENGATASI KEMACETAN LALU LINTAS DI JALAN
MARGONDA
RAYA
Jalan Margonda Raya merupakan jalan yang
menghubungkan Kota Jakarta dengan Kota Depok dan sekitarnya. Setiap hari banyak
sekali masyarakat yang melewati jalan tersebut baik dengan kendaraan umum maupun
kendaraan pribadi.
Jalan Margonda Raya memiliki lokasi yang
berdekatan dengan pusat perdagangan (mall) dan sarana pendidikan yang
mengakibatkan terjadinya kemacetan.
Berikut adalah beberapa solusi yang dapat diterapkan kemacetan di jalan
Margonda Raya.
Menghilangkan Zebracross Depan Halte Pocin
Salah satu penyebab kemacetan yang terjadi di jalan
Margonda Raya adalah aktivitas pejalan kaki / penyebrang jalan. Hal ini
dikarenakan tingkat penyebrang jalan yang tinggi dan kurangnya kesadaran
masyarakat akan adanya fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah daerah
setempat yaitu jembatan penyebrangan orang (JPO).
Aktivitas pejalan kaki yang demikian sangat
mengganggu aktivitas kendaraan yang melewati wilayah tersebut sehingga kecepatan perjalanan yang melewati jalan
Margonda Raya menjadi lebih lambat yang mengakibatkan terjadinya
kemacetan.
Diharapkan dengan ditutupnya media jalan
zebracroos depan halte pocin, masyarakat mulai menggunakan fasilitas JPO yang
telah disediakan agar waktu hambatan yang diakibatkan oleh aktivitas pejalan
kaki dapat dihilangkan dan kecepatan rata-rata kendaraan dapat meningkat terutama
pada saat tingkat arus kendaraan tertinggi serta tentunya akan dapat mengurangi
tingkat kecelakaan lalu lintas.
Perbaikan Halte untuk Pemberhentian Angkutan Kota
Solusi kedua untuk mengatasi kemacetan di
jalan Margonda Raya adalah dengan melakukan perbaikan halte untuk tempat
pemberhentian angkutan kota. Hal ini dimaksudkan agar angkutan kota tidak
berhenti sembarangan dan masyarakat lebih tertib.
Adapun tujuan lainnya dengan diberikan
fasilitas yang memadai, masyarakat menjadi lebih nyaman dan lebih tertarik lagi
dalam mengunakan angkutan umum sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat berkurang
dan kemacetan dapat teratasi sehingga antara supir angkot dan pemerintah daerah
tersebut terjadi hubungan yang mutualisme.
Diharapkan dengan adanya perbaikan halte
untuk tempat pemberhentian angkutan kota di jalan Margonda Raya, dapat
mengurangi hambatan yang dialami oleh pengguna kendaraan pada saat melalui
wilayah tersebut.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukkan
bahwa titik lokasi kemacetan pada jalan Margonda Raya terjadi dari Kampus D
Gunadarma sampai dengan lampu merah Juanda, terutama pada saat tingkat arus
terbesar / puncak yaitu pada pukul 16.30 – 19.30 WIB.
Hal ini dapat dilihat dari menurunnya
kecepatan perjalanan kendaraan yang melalui jalan tersebut. Penyebab kemacetan
yang terjadi di jalan Margonda Raya tersebut adalah aktivitas pejalan kaki /
penyebrang jalan dan perilaku angkutan kota serta perbaikan fasilitas untuk
tempat pemberhentiannya.
Solusinya yaitu perlu ditutupnya media jalan zebracross depan halte pocin dengan
pagar agar pejalan kaki tidak menyebrang sembarangan yang mengakibatkan
terjadinya kemacetan dan JPO dapat dipakai dengan semestinya, serta perbaikan
halte untuk tempat pemberhentian angkot. Dengan solusi tersebut, diharapkan kemacetan
di jalan Margonda Raya dapat teratasi.
IV. SARAN
Kemacetan yang terjadi di sepanjang
jalan Margonda Raya Kota Depok terjadi pada dua tempat utama yaitu didepan
kampus D Universitas Gunadarma dan depan Mall Depok. Berdasarkan masalah dari
kemacetan sepanjang jalan Margonda Raya tersebut didapatkan solusi dan saran
yaitu dengan ditutupnya media jalan / zebracross depan halte pocin agar pejalan
kaki tidak menyebrang di tempat tersebut lagi dan penggunaan jembatan
penyebrangan orang disana bisa digunakan sebagaimana mestinya. Adapun solusi
dan saran yang kedua dengan melakukan perbaikan halte pocin untuk tempat
pemberhentian angkot agar lebih tertib.
Kemacetan Dengan solusi dan saran yang telah diberikan, diharapkan dapat
mengurangi kemacetan yang terjadi di jalan Margonda Raya. Berikut adalah
ilustrasi gambar sesuai dengan solusi dan saran yang telah diberikan
- · Sebelum
- · Sesudah
VI. DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)













