Rabu, 07 November 2018

Karya Tulis Ilmiah

https://drive.google.com/file/d/15qZxD6HO3KmqQwrCdtsvPjiRqDKI_3uS/view?usp=sharing

Sabtu, 14 April 2018

ANTRIAN



ANTRIAN

Konsep teori antrian pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh A.K. Erlang, seorang insinyur Denmark yang bekerja pada perusahaan telepon di Kopenhagen pada tahun 1910. Berawal dari para operator yang kewalahan pada waktu-waktu yang sibuk sehingga membuat para penelpon harus menunggu giliran dengan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan pelayanan.
Antrian timbul disebabkan oleh kebutuhan akan layanan melebihi kemampuan (kapasitas) pelayanan atau fasilitas layanan, sehingga pengguna fasilitas yang tiba tidak bisa segera mendapat layanan disebabkan kesibukan layanan. Pada banyak hal, tambahan fasilitas pelayanan dapat diberikan untuk mengurangi antrian atau untuk mencegah timbulnya antrian. Akan tetapi biaya karena memberikan pelayanan tambahan, akan menimbulkan pengurangan keuntungan mungkin sampai di bawah tingkat yang dapat diterima.

Kompenen Sistem Antrian
Ada tiga komponen dalam sistem antrian, yaitu:
1.      Kedatangan
      Komponen ini sering disebut juga dengan proses input. Proses input meliputi calling population atau sumber kedatangan dan terjadinya merupakan suatu variabel yang bersifat acak. Variabel acak adalah suatu variabel yang nilainya bisa berapa saja sebagai hasil dari percobaan acak. Variabel acak dapat berupa diskrit atau  kontinu.
2.      Pelayan
Mekanisme pelayanan dapat terdiri dari satu atau lebih pelayan maupun fasilitas pelayanan yang diberikan. Biasanya, fasilitas pelayanan tersebut disebut juga dengan saluran atau channel. Contohnya, alfamart memiliki satu tempat untuk pembayaran.
3.      Antrian
Faktor penting dari timbulnya antrian adalah sifat kedatangan dan proses layanan. Jika tidak ada antrian, maka dapat dipastikan bahwa terdapat pelayanan yang menganggur atau fasilitas pelayanan yang berlebih.
Penentu antrian lain yang penting adalah disiplin antri. Disiplin antri adalah aturan keputusan yang menjelaskan cara melayani pengantri. Menurut Siagian (1987), adapun bentuk disiplin pelayanan yang biasa digunakan, yaitu :
  •       First in First Out (FIFO) atau First Come Fisrt Served (FCFS), yang artinya pelanggan  yang  lebih dulu datang akan lebih dulu mendapatkan pelayanan.
  • Last In First Out (LIFO) atau Last Come First Served (LCFS), artinya pelanggan yang datang terakhir bisa mendapatkan pelayanan terlebih dahulu, atau yang lebih dahulu keluar adalah yang terakhir datang.
  • Service In Random Order (SIRO), artinya pelayanan diberikan tidak berdasarkan urutan kedatangan, melainkan dilakukan secara random.
  • Priority Service (PS), artinya mereka yang mempunyai prioritas lebih tinggi yang akan terlebih dahulu diberikan pelayanan, dan mereka yang memiliki prioritas rendah akan mendapatkan pelayanan berikutnya, meskipun datang lebih awal.

Struktur Antrian
Ada 4 model struktur antrian dasar yang umum terjadi dalam seluruh sistem antrian :
1.      Single Channel – Single Phase
Single Channel berarti satu saluran atau satu jalur dan Single Phase berarti satu pelayanan. Maksudnya adalah hanya ada satu jalur yang memasuki sistem pelayanan atau hanya ada satu fasilitas pelayanan yang diberikan. Contohnya: toko kue







2.      Single Channel – Multi Phase
 Berarti satu saluran ada dua atau lebih pelayanan. Contohnya: tempat pencucian mobil.






3.      Multi Channel – Single Phase
Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal. Contohnya: supermarket. 






4.      Multi Channel – Multi Phase
Sistem Multi Channel – Multi Phase berarti ada beberapa fasilitas pelayanan dalam banyak jalur atau melalui beberapa tahapan.Contohnya: pelayanan kepada pasien di rumah sakit mulai dari pendaftaran, diagnosa, penyembuhan sampai pembayaran. 



 




Mekanisme Pelayanan
Ada 3 aspek yang harus diperhatikan dalam mekanisme pelayanan, yaitu :
1.      Tersedianya pelayanan
Mekanisme pelayanan tidak selalu tersedia untuk setiap saat. Misalnya toko kue, pelayanan hanya dibuka pada waktu pagi sampai sore hari saja dan tutup pada malam hari. Sehingga pada saat toko ditutup, mekanisme pelayanan terhenti dan petugas pelayanan istirahat.
2.      Kapasitas pelayanan
            Kapasitas dari mekanisme pelayanan diukur berdasarkan jumlah langganan yang dapat dilayani secara bersama. Oleh karena itu, fasilitas pelayanan dapat memiliki satu atau lebih saluran. Fasilitas yang mempunyai satu saluran disebut saluran tunggal atau sistem pelayanan tunggal dan fasilitas yang mempunyai lebih dari satu saluran disebut saluran ganda atau pelayanan ganda.
3.      Karakteristik waktu pelayanan
            Lamanya pelayanan adalah waktu yang dibutuhkan untuk melayani seorang langganan atau satu – satuan. Ini harus dinyatakan secara pasti. Umumnya dan untuk keperluan analisis, waktu pelayanan dianggap sebagai variabel acak yang terpencar secara bebas dan sama serta tidak tergantung pada waktu pertibaan (Siagian, 1987).


Perilaku Biaya Antrian
Dalam sistem antrian ada dua jenis biaya yang timbul, yaitu biaya karena orang mengantri atau dengan menambah fasilitas layanan. Biaya yang terjadi karena orang mengantri adalah berupa waktu yang hilang karena menunggu. Sementara biaya menambah fasilitas layanan berupa penambahan fasilitas layanan serta gaji tenaga kerja yang memberi pelayanan.
Suatu cara untuk mengevaluasi sebuah fasilitas pelayanan adalah dengan melihat biaya total yang diharapkan. Total biaya merupakan penjumlahan biaya pelayanan yang diharapkan ditambah dengan biaya menunggu yang diharapkan.





Manfaat Antrian
Secara umum adapun manfaat antri diantaranya adalah:
  • meminimalkan biaya total, yaitu biaya karena mengantri dan biaya karena menambah fasilitas layanan
  • Antrian membuat konsumen tidak perlu berbaris menunggu untuk dilayani dan memberikan kepuasan serta kenyamanan kepada konsumen.
  • Antrian dapat menjadikan kinerja karyawan lebih efisien di bidangnya masing-masing.

Sumber

Sabtu, 24 Maret 2018

Kemacetan di Jalan Margonda Raya

ANALISIS KEMACETAN LALU LINTAS DI SUATU WILAYAH
(STUDI KASUS DI JALAN MARGONDA RAYA)


ABSTRAK

Jalan Margonda Raya memiliki fungsi jalan kolektor primer dengan volume lalu lintas paling tinggi dibandingkan jalan lainnya di Kota Depok terutama pada jam sibuk. Pergerakan kendaraan dan pejalan kaki di kawasan tersebut baik lokal maupun regional cukup padat sehingga sering menimbulkan kemacetan dan kendaraan yang mengakibatkan bertambahnya waktu tempuh kendaraan terutama pada pada saat hari kerja.
Batasan yang diambil yaitu Bundaran UI sampai pertigaan jalan Margonda Raya-jalan Ir.H.Juanda dengan lokasi survey mulai dari depan kampus D Universitas Gunadarma.
Penyebab kemacetan yang terjadi dapat diketahui dengan pengamatan langsung terhadap lokasi kemacetan, sehingga dapat diketahui titik kemacetan, tingginya aktivitas pejalan kaki, beserta waktu arus kendaraan puncak.
Dari hasil pengamatan, ditemukan penyebab kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan Margonda Raya, yaitu karena aktivitas penyebrang jalan yang cukup banyak, perilaku pengemudi angkutan kota, dan banyaknya kendaraan.
Berdasarkan penyebab utama yang ditemukan, maka solusinya adalah dengan ditutupnya media jalan zebracross depan halte pocin dengan pagar agar pejalan kaki tidak menyebrang sembarangan yang mengakibatkan terjadinya kemacetan dan Jembatan penyebrangan orang dapat dipakai dengan semestinya, serta perbaikan halte untuk tempat pemberhentian angkot.
Dengan solusi tersebut, diharapkan kecepatan perjalanan yang melewati jalan Margonda Raya pada waktu arus puncak dapat meningkat.
Kata kunci: Kemacetan, Jalan Margonda Raya, Pagar Pembatas.


I. PENDAHULUAN
Lalu lintas adalah sarana untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, oleh karena itu lalu lintas merupakan salah satu masalah penting. Apabila arus lalu lintas terganggu atau terjadi kemacetan, maka mobilitas masyarakat juga akan mengalami gangguan. Gangguan-gangguan ini akan berdampak negatif pada masyarakat.
Masalah kemacetan lalu lintas seringkali terjadi pada kawasan yang mempunyai
intensitas kegiatan dan penggunaan lahan yang tinggi. Selain itu, kemacetan lalu lintas
terjadi karena volume lalu lintas tinggi yang disebabkan bercampurnya lalu lintas
menerus, lalu lintas regional dan lokal.
Demikian juga yang terjadi di jalan Margonda Raya yang menghubungkan antara Kota Depok dengan Kota Jakarta hampir setiap hari kerja maka ruas jalan ini selalu terjadi kemacetan lalu lintas. Panjang Jalan Margonda Raya adalah sekitar 6,5 km terhitung dari bundaran Universitas Indonesia sampai dengan pertigaan Jl. Dewi Sartika.
Kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan Margonda Raya merupakan masalah
yang harus segera ditangani. Usaha-usaha untuk mencegah dan mengurangi
terjadinya kemacetan lalu lintas harus segera dilakukan, maka perlu dilakukan
analisis untuk mengetahui penyebab kemacetan lalu lintas yang terjadi sehingga dapat memberikan solusi untuk mengatasi kemacetan yang terjadi.



 II. PENYEBAB KEMACETAN LALU DI JALAN MARGONDA RAYA


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka penyebab kemacetan
yang sering terjadi di jalan Margonda Raya adalah sebagai berikut :

Aktivitas Pejalan Kaki / Penyebrang Jalan
Aktivitas pejalan kaki / penyeberang jalan yang ada di jalan Margonda Raya cukup banyak. Pemda setempat telah menyiapkan fasilitas JPO yang cukup memadai untuk penyebrang jalan tetapi orang–orang tetap lebih memilih zebracross dikarenakan waktu tempuh yang lebih cepat tetapi adapun dampak negatif dengan adanya zebracross yaitu merupakan salah satu hal yang dapat memicu terjadinya macet.
Kesadaran dari pejalan kaki dalam memenuhi peraturan yang berlaku juga minim. Hal ini juga didukung dari hasil pengamatan yang telah dilakukan bahwa aktivitas pejalan kaki / penyeberang jalan ini menjadi penyebab kemacetan terbesar yang terjadi di jalan Margonda Raya.
Berikut adalah gambaran dari aktivitas pejalan kaki / penyeberang jalan yang dapat kita lihat di Jalan Margonda Raya.

                                       Gambar 1. penyebrang jalan di Jalan Margonda Raya


Perilaku Pengemudi Angkutan Kota
Angkutan kota atau angkot adalah salah satu moda transportasi yang sering kita jumpai dan banyak digunakan oleh masyarakat karena harga yang terjangkau, tetapi angkot juga menjadi penyebab terjadinya kemacetan karena sering berhenti untuk menurunkan
penumpang dan berhenti / ngetem pada tempat yang dilarang.
Demikian juga yang terjadi di jalan Margonda Raya bahwa perilaku angkutan kota yang tidak sesuai aturan menjadi penyebab kemacetan kedua berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan.
Berikut adalah gambaran yang diambil di tempat Angkutan kota berhenti / ngetem di Jalan Margonda Raya.

 
Gambar 2. Perilaku angkutan kota di Jalan Margonda Raya



III. SOLUSI MENGATASI KEMACETAN LALU LINTAS DI JALAN
      MARGONDA RAYA
Jalan Margonda Raya merupakan jalan yang menghubungkan Kota Jakarta dengan Kota Depok dan sekitarnya. Setiap hari banyak sekali masyarakat yang melewati jalan tersebut baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.
Jalan Margonda Raya memiliki lokasi yang berdekatan dengan pusat perdagangan (mall) dan sarana pendidikan yang mengakibatkan terjadinya kemacetan. Berikut adalah beberapa solusi yang dapat diterapkan kemacetan di jalan Margonda Raya.

Menghilangkan Zebracross Depan Halte Pocin
Salah satu penyebab kemacetan yang terjadi di jalan Margonda Raya adalah aktivitas pejalan kaki / penyebrang jalan. Hal ini dikarenakan tingkat penyebrang jalan yang tinggi dan kurangnya kesadaran masyarakat akan adanya fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah daerah setempat yaitu jembatan penyebrangan orang (JPO).
Aktivitas pejalan kaki yang demikian sangat mengganggu aktivitas kendaraan yang melewati wilayah tersebut sehingga kecepatan perjalanan yang melewati jalan Margonda Raya menjadi lebih lambat yang mengakibatkan terjadinya kemacetan.
Diharapkan dengan ditutupnya media jalan zebracroos depan halte pocin, masyarakat mulai menggunakan fasilitas JPO yang telah disediakan agar waktu hambatan yang diakibatkan oleh aktivitas pejalan kaki dapat dihilangkan dan kecepatan rata-rata kendaraan dapat meningkat terutama pada saat tingkat arus kendaraan tertinggi serta tentunya akan dapat mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas.

Perbaikan Halte untuk Pemberhentian Angkutan Kota
Solusi kedua untuk mengatasi kemacetan di jalan Margonda Raya adalah dengan melakukan perbaikan halte untuk tempat pemberhentian angkutan kota. Hal ini dimaksudkan agar angkutan kota tidak berhenti sembarangan dan masyarakat lebih tertib.
Adapun tujuan lainnya dengan diberikan fasilitas yang memadai, masyarakat menjadi lebih nyaman dan lebih tertarik lagi dalam mengunakan angkutan umum sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat berkurang dan kemacetan dapat teratasi sehingga antara supir angkot dan pemerintah daerah tersebut terjadi hubungan yang mutualisme.
Diharapkan dengan adanya perbaikan halte untuk tempat pemberhentian angkutan kota di jalan Margonda Raya, dapat mengurangi hambatan yang dialami oleh pengguna kendaraan pada saat melalui wilayah tersebut.


IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukkan bahwa titik lokasi kemacetan pada jalan Margonda Raya terjadi dari Kampus D Gunadarma sampai dengan lampu merah Juanda, terutama pada saat tingkat arus terbesar / puncak yaitu pada pukul 16.30 – 19.30 WIB.
Hal ini dapat dilihat dari menurunnya kecepatan perjalanan kendaraan yang melalui jalan tersebut. Penyebab kemacetan yang terjadi di jalan Margonda Raya tersebut adalah aktivitas pejalan kaki / penyebrang jalan dan perilaku angkutan kota serta perbaikan fasilitas untuk tempat pemberhentiannya.
Solusinya yaitu perlu ditutupnya media jalan zebracross depan halte pocin dengan pagar agar pejalan kaki tidak menyebrang sembarangan yang mengakibatkan terjadinya kemacetan dan JPO dapat dipakai dengan semestinya, serta perbaikan halte untuk tempat pemberhentian angkot. Dengan solusi tersebut, diharapkan kemacetan di jalan Margonda Raya dapat teratasi.


IV. SARAN
            Kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan Margonda Raya Kota Depok terjadi pada dua tempat utama yaitu didepan kampus D Universitas Gunadarma dan depan Mall Depok. Berdasarkan masalah dari kemacetan sepanjang jalan Margonda Raya tersebut didapatkan solusi dan saran yaitu dengan ditutupnya media jalan / zebracross depan halte pocin agar pejalan kaki tidak menyebrang di tempat tersebut lagi dan penggunaan jembatan penyebrangan orang disana bisa digunakan sebagaimana mestinya. Adapun solusi dan saran yang kedua dengan melakukan perbaikan halte pocin untuk tempat pemberhentian angkot agar lebih tertib.
            Kemacetan Dengan solusi dan saran yang telah diberikan, diharapkan dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di jalan Margonda Raya. Berikut adalah ilustrasi gambar sesuai dengan solusi dan saran yang telah diberikan
  • ·         Sebelum


  • ·         Sesudah


VI. DAFTAR PUSTAKA